Felicity : an american girl adventure (Bagian II)
Loteng 7 Comments »Apakah, sekarang ini Anda sedang terikat dengan sebuah kontrak, sobat? Bisa kontrak apa saja, mungkin kontrak kerja, bisa juga sebuah kontrak cinta yang melembaga dalam pernikahan, atau kontrak hidup? Sebuah kontrak yang sudah jelas kapan akan berakhir, mungkin juga tidak jelas kapan akan menemui garis finish.
Kakek yang mengajarkan bagaimana melakukan manajemen marah, berkata :
Jangan mengejar sesuatu saat kau lari dari sesuatu
Sejujurnya saya kurang mengerti bagaimana esensi dari perkataan itu. DI film ini, diceritakan bagaimana seorang pegawai magang yang masih terikat kontrak melarikan diri, karena ingin bergabung dengan pasukan loyalis. Dia ingin mendarmabaktikan hidupnya untuk perjuangan, bukan hanya menjadi seorang pegawai magang.
Sebuah kontrak, menurut kakek Felicity, adalah janji yang telah diberikan. Nilainya tidak lebih rendah dari darma bakti untuk perjuangan. Walaupun bentuknya secara kasat mata terlihat lebih rendah “hanya” sebagai pegawai magang, namun janji adalah janji, dan harus ditepati. Akhirnya Ben, sang pegawai magang memegang janjinya kepada bosnya yaitu ayah Felicity. Tindakan Ben ini, selaras dengan pesan jangan mengejar sesuatu saat kau lari dari sesuatu. Ben memutuskan untuk menyelesaikan kontraknya terlebih dahulu, barulah kemudian akan berjuang untuk keyakinannya.
Saat yang sama, mengingatkan saya pada sebuah adegan dalam film berjudul “9,5″. Waktu itu, gempa besar baru saja terjadi, gempa yang mengakibatkan sebuah kota hilang. Adegan menampilkan seorang ayah dan anak gadisnyanya yang sedang tersesat mencari jalan pulang. Mereka berdua harus memutar, bukan melewati jalan yang sebenarnya karena jembatan yang menghubungkan runtuh. Mobil yang ditumpangi, ditelan medan pasir hisap yang tiba-tiba terbentuk pasca gempa. Ayah dan anak ini, terpaksa berjalan menempuh jarak yang tidak diketahui, serta di lain pihak masih ada ancaman gempa susulan. Kira-kira beginilah percakapan di antara keduanya.
“Ayah, bagaimana kita akan menemukan jalan pulang dan bertemu dengan Ibu? Sementara kita tidak tahu di mana saat ini kita berada, lagipula aku sudah demikian capek, Ayah!.”
“Kau lihat belokan itu, Nak? Kita hanya perlu menuju ke sana, kemudian kita akan menentukan langkah selanjutnya setelah sampai di belokan itu.”
“Tapi, bagaimana dengan Ibu, Yah? Apakah Ibu baik-baik saja? Bagaimana bila terjadi sesuatu dengannya? Bagaimana bila kita tidak akan pernah bisa pulang? Bagaimana bila tak ada seorangpun yang akan kita temui dan mungkin bisa memberikan tumpangan?”
“Kita tak mungkin memikirkan semua itu secara bersamaan, Nak. Fokuslah pada belokan itu, bila kita bisa mencapainya, maka jawaban akan tersaji satu demi satu kemudian. Begitu juga, bagaimana cara Ayah dalam bekerja, begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, namun akhirnya tetap harus diselesaikan satu per satu.”
Saya kurang tahu, apakah Anda bisa multitasking? Mengerjakan beberapa hal dalam waktu yang bersamaan, seperti sebuah mesin komputer? Beberapa orang yang kebetulan cewek, mengaku dirinya bisa multitasking. Wah, saya sangat kagum dibuatnya. Saya sendiri, bisa sangat fokus ketika sedang disibukkan dengan satu hal yang menyenangkan, atau saat mendekati deadline. Tak jarang saya tidak menengok saat ada panggilan dari orang lain, bukannya menjadi tuli. Tidak seperti itu, karena panggilan itu tetap saja terdengar, hanya sayang meninggalkan hal yang begitu mengasyikkan untuk sekedar menengok.
Fokus pada sesuatu dan mengesampingkan hal lain. Saya kira, kerja sebuah lensa kamera bisa menjadi contoh yang mewakili. Kita akan mengatur lensa, dengan memutarnya atau melakukan zooming sampai dengan sebuah obyek terlihat jelas. Bila lensa telah fokus, maka obyek yang menjadi incaran akan terekam dengan baik. Selanjutnya, bila niat kita sudah fokus, sudah bulat, apa kira-kira yang akan terjadi pada obyek yang ingin kita tangkap, kita capai?
Sebenarnya saya khawatir hanya menuliskan teori-teori tanpa diwujudkan dalam praktek. Mencoba menerjemahkan pesan kakek Felicity, mencoba mengambil intisari dari perkataan seorang ayah di film “9,5″ tanpa menjadikannya nyata dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa saat yang lalu, saat menjalin hubungan dengan seseorang, ternyata saya tidak fokus padanya. Seorang yang lain hadir, lengkap dengan pesonanya. Lensa saya kabur, bingung menangkap obyek yang mana. Akhirnya hanyalah gambar buram yang tersaji. Sepertinya ini curhat colongan, hehe. Tetapi biarlah, mungkin dengan itu kita bisa belajar bersama. Akhirnya, fokusss yuuukkkk!!!

Recent Comments